Kuburan Kereta di Stasiun Purwakarta

Pernahkah Anda melihat foto tumpukan gerbong kereta api berwarna-warni yang menjulang tinggi, berkarat, namun terlihat sangat artistik di beranda Instagram? Banyak yang mengira itu adalah set film dystopian ala Hollywood atau pemandangan di pinggiran kota Eropa Timur.

Padahal, pemandangan epik itu ada tepat di jantung kota kita: Stasiun Purwakarta.

Stasiun Purwakarta bukan sekadar tempat naik-turun penumpang KAI Commuter Line atau Kereta Jarak Jauh. Di balik kesibukan peluit petugas dan suara roda besi yang beradu dengan rel, tersimpan narasi sejarah panjang sejak zaman Hindia Belanda. Dan tentu saja, fenomena “Kuburan Kereta” yang kini menjadi magnet bagi para pemburu foto estetik.

Namun, ada pertanyaan besar yang menggelayut (5W+1H): Siapa yang membangunnya? Mengapa gerbong-gerbong itu ditumpuk di sana? Dan benarkah ada cerita mistis yang menyelimutinya?

Mari kita bedah satu per satu dalam perjalanan waktu menelusuri jejak besi di tanah Purwakarta.

The Beginning: Ambisi Belanda Membelah Gunung

Untuk memahami Stasiun Purwakarta, kita harus memutar waktu kembali ke awal abad ke-20, tepatnya tahun 1902.

Kala itu, perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), sedang memiliki ambisi besar. Mereka ingin menghubungkan Batavia (Jakarta) dan Surabaya melalui jalur selatan yang melewati pegunungan Priangan (Bandung).

Proyek ini bukan main-main. Jalur Cikampek menuju Purwakarta hingga Bandung adalah medan neraka bagi insinyur masa itu. Konturnya berbukit, membelah lembah curam, dan menembus gunung. Namun, demi kepentingan ekonomi (mengangkut hasil perkebunan teh dan kopi dari Priangan ke pelabuhan), jalur ini harus jadi.

Stasiun Purwakarta resmi dibuka pada 27 Desember 1902. Saat itu, stasiun ini menjadi titik vital. Mengapa? Karena di sinilah lokomotif uap harus “mengambil napas” dan mengisi air sebelum menaklukkan tanjakan curam menuju Sasaksaat dan Padalarang.

Tanpa Stasiun Purwakarta, jalur kereta api Jakarta-Bandung yang legendaris itu mungkin tidak akan pernah beroperasi seefisien dulu. Bangunan stasiun yang kita lihat sekarang masih menyisakan arsitektur kolonial yang kental—atap tinggi, jendela besar, dan struktur tembok yang kokoh khas bangunan Belanda.

Fenomena “Kuburan Kereta”: Estetika dalam Karat

Inilah highlight utama yang membuat Stasiun Purwakarta berbeda dari stasiun manapun di Indonesia: Tumpukan Gerbong Kereta Bekas (PKLG).

Bagi warga lokal, tumpukan ini mungkin pemandangan biasa. Tapi bagi dunia luar, ini adalah mahakarya visual.

Apa sebenarnya tumpukan ini? Secara teknis, area ini adalah Pusat Kegudangan dan Logistik (PKLG) milik PT Kereta Api Indonesia (Persero). Gerbong-gerbong yang Anda lihat menumpuk hingga tiga tingkat itu bukanlah sampah sembarangan. Itu adalah KRL (Kereta Rel Listrik) ekonomi non-AC dan KRD (Kereta Rel Diesel) yang sudah purnatugas alias pensiun.

Mengapa ditumpuk di Purwakarta? Alasannya pragmatis: keterbatasan lahan di Jakarta. Sejak era modernisasi KRL Commuter Line (penghapusan KRL Ekonomi dan penerapan KRL AC), ratusan gerbong lama seperti seri Rheostatik, Hitachi, hingga Holec ditarik dari peredaran. Stasiun Purwakarta memiliki lahan emplasemen yang cukup luas di sisi rel aktif, sehingga dipilih menjadi tempat peristirahatan terakhir sang legenda besi ini.

Warna-warni cat gerbong yang mulai mengelupas, karat yang menggerogoti besi, serta tanaman liar yang mulai merambat di sela-sela jendela pecah, justru menciptakan nuansa vintage dan post-apocalyptic yang dramatis. Tak heran jika fotografer landscape sering menyebutnya sebagai spot paling fotogenik di jalur Daop 2 Bandung.

Misteri Urban Legend: Antara Fakta dan Cerita Warga

Bicara soal bangunan tua dan barang rongsokan, rasanya kurang lengkap tanpa bumbu misteri. Bagaimana respon masyarakat terhadap tumpukan besi tua ini?

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan warga sekitar stasiun, bahwa area “kuburan” ini menyimpan aura tersendiri. Beberapa cerita urban legend (yang belum tentu kebenarannya) sering beredar:

  • Suara Tanpa Wujud: Konon, penjaga malam atau warga yang melintas larut malam terkadang mendengar suara keramaian samar-samar dari arah tumpukan gerbong, seolah-olah gerbong tersebut masih penuh penumpang.
  • Penampakan: Cerita tentang sosok yang duduk diam di dalam gerbong kosong sering menjadi bumbu obrolan di warung kopi.

Namun, jangan biarkan cerita ini membuat Anda takut. Justru “aura” misterius inilah yang menambah daya tarik Stasiun Purwakarta. Bagi para seniman foto, suasana spooky ini justru dicari untuk menciptakan foto yang bercerita dan berkarakter kuat.

Faktanya, area ini dijaga ketat oleh Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api) dan relatif aman. Kengerian yang ada lebih kepada imajinasi kita saat melihat benda mati yang dulunya begitu hidup melayani ribuan manusia setiap harinya.

Lokasi dan Cara Menikmati

Stasiun Purwakarta terletak sangat strategis, tepatnya di Nagri Tengah, Kec. Purwakarta. Lokasinya bersebelahan persis dengan Kantor Bupati Purwakarta.

Bagaimana cara menikmati spot ini? Penting untuk dicatat: Area tumpukan gerbong adalah area TERBATAS (Restricted Area).

Demi alasan keselamatan, masyarakat umum dilarang memanjat atau masuk ke dalam tumpukan gerbong tanpa izin resmi dari Humas DAOP 2 Bandung. Besi tua yang rapuh dan potensi hewan liar (ular) membuat area ini berbahaya jika dimasuki sembarangan.

Namun, Anda tidak perlu kecewa. Anda tetap bisa menikmati dan memotret keindahannya dengan cara yang aman dan legal:

  1. Menjadi Penumpang Kereta: Cara terbaik adalah dengan membeli tiket kereta api (Misalnya KA Walahar Ekspres dari Cikarang atau KA Lokal Garut Cibatuan dari Bandung). Saat kereta berhenti atau melintas pelan di emplasemen stasiun, Anda bisa melihat tumpukan ini dengan sangat jelas dari balik jendela atau pintu bordes.
  2. Dari Peron Stasiun: Saat menunggu kereta, Anda bisa berfoto dengan latar belakang tumpukan gerbong dari peron yang aman. Angle dari sini sudah sangat cukup untuk kebutuhan konten media sosial.
  3. Jembatan Penyeberangan: Di sekitar area luar stasiun terdapat spot-spot di mana tumpukan gerbong ini terlihat menjulang melewati pagar pembatas.

Dampak Sosial Ekonomi bagi Purwakarta

Keberadaan Stasiun Purwakarta dengan ikon kuburan keretanya secara tidak langsung mendongkrak ekonomi lokal.

Para pelancong dari Jakarta yang turun di stasiun ini biasanya tidak langsung pulang. Mereka akan mencari kuliner. Dan tebak apa yang ada di dekat stasiun? Sate Maranggi! (Seperti yang kita bahas di artikel sebelumnya).

Stasiun ini menjadi pintu gerbang pariwisata. Wisatawan turun dari kereta, berfoto dengan latar gerbong tua, lalu melanjutkan perjalanan kuliner ke Plered atau wisata air ke Air Mancur Sri Baduga. Ini adalah ekosistem wisata yang saling menguntungkan.

Kesimpulan: Besi Tua yang Bercerita

Stasiun Purwakarta mengajarkan kita satu hal: bahwa sejarah tidak harus selalu tersimpan rapi di dalam museum yang dingin. Sejarah bisa berupa tumpukan besi tua yang berkarat di bawah terik matahari.

Gerbong-gerbong itu mungkin sudah tidak berjalan, tapi mereka “berbicara”. Mereka adalah saksi bisu perjuangan jutaan kaum penglaju (commuter) yang pernah menggantungkan hidup pada transportasi massal. Mereka adalah saksi bisu transformasi teknologi transportasi Indonesia.

Jadi, jika Anda sedang berada di Purwakarta, luangkan waktu sejenak ke Stasiun. Berdirilah di peron, tatap tumpukan gerbong itu, dan rasakan atmosfer nostalgia yang dibawa oleh angin sore kota Pensiunan ini.

Ingin tahu spot foto hidden gem lainnya di dekat Stasiun Purwakarta? Pantau terus update terbaru hanya di Purwakartapride.xyz!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *